Sabtu, 10 Mei 2014

IVA (INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT)

Pengertian IVA

IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009)

IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010).

Laporan hasil konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra kanker (high-Grade Precanceraus Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi positif (positive predective value) dan nilai prediksi negatif (negative predective value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya Delia, 2010).

Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi.

Pada pemeriksaan ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada jaringan epitel.

Serviks yang diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapat hasil gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia) (Novel S Sinta,dkk,2010). 

Tujuan IVA
Mengetahui cara penanganan deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA.

Kategori Pemeriksaan IVA
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:
1.IVA negatif = Serviks normal.
2.IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks).
3.IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ).
4.IVA-Kanker serviks
Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada stadium invasif dini (stadium IB-IIA)

Alat dan Bahan Pelaksanaan skrining IVA

Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA,
dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
-Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
-Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
-Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
-Spekulum vagina
-Asam asetat (3-5%)
-Swab-lidi berkapas
-Sarung tangan

Penatalaksanaan
Pemeriksaan IVA dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah dipulas dengan larutan asam asetat 3-5%. Jika tidak ada perubahan warna atau tidak muncul plak putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negatif.

Sebaliknya, jika leher rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatkan positif lesi atau kelainan pra kanker.

Namun jika masih tahap lesi, pengobatannya cukup mudah. Bisa langsung diobati dengan metode krioterapi atau gas dingin yang menyemprotkan gas CO2 atau N2 ke leher rahim.
Sensitivitasnya lebih dari 90 % dan spesifitasinya sekitar 40 %. Dengan metode diagnosis yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi sejak dini. Dengan demikian, bisa segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
Kalau dari hasil tes IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan warna dinding leher rahim dari merah muda menjadi putih, artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut baru terjadi di sekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau dihilangkan dengan dibakar atau dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker yang disebabkan human papilloma virus (HPV) itu tidak jadi berkembang dan merusak organ tubuh yang lain.

 Faktor yang diasumsikan berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker servik Metode IVA

·         Umur

Umur individu terhitung mulai saat dilahitkan sampai berulang tahun. semakin cukup umur, tingkat kematan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Kanker leher rahim dapat terjadi pada usia mulai 18 taun. Pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia dianjurkan bagi semua perempuan berusia 30-0 tahun kasus kejadian kanker leher rahim palig tinggi terjadi pada usia 40 dan 50 tahun, sehingga tes harus dilakukan pada usia dimana lesi pra kanker lebih mungkin terdeteksi, yaitu biasanya sampai 20 tahun lebih awal (Depkes RI, 2009).

·         Pendidikan

Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga ia dapat mencapai sosial dan mengembangkan kepribadiannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula menerima pengetahuan yang dimilikinya, dan jika tingkat pendidikan rendah, maka akan menghambat perkembangan perilaku seseorang terhadap penerimaan, informasi, dan nilai-nilai yang diperkenalkan. Seperti menurut Purba, EVI M, dalam peneliiannya tahun 2011 bahwa ibu yang mempunyai pendidikan tinggi lebih banyak yang melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim yaitu sebanyak 65,3%.

·         Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan diri dan kehidupan keluarganya. Pekerjaan akan mempengaruhi tingkat ekonomi seseorang. tingkat sosial yang terlalu rendah akan mempengaruhi individu menjadi tidak begitu memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan kebutuha-kebutuhan lain yang lebih mendesa (Nursalam, 2008). Hasil penelitian Hidayati (2001) menyebutkan bahwa kanker leher rahim berhubngan dengan pekerjaan, dimana bila dibandingkan dengan wanita pekerja ringan atau pekerja di kantor (sosial ekonomi menengah ke atas), wanita pekerja kasar, seperti buruh dan petani (sosial ekonomi rendah) mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi.

·         Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada yang tidak didasari pengetahuan. Pengetahuan tentang deteksi dini kanker leher rahim penting diketahui oleh masyarakat khususnya wanita untuk meningkatkan kesadaran dan merangsang terbentuknya perilaku kesehatan yang diharapkan dalam hal ini perilaku deteksi dini kanker leher rahim. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Sakanti, Anggiasih 2007 bahwa orang yang berpengetahuan baik, sebanyak 85,71% melakukan pemeriksaan pap smear.

·         Status Perkawinan

Status perkawinan adalah status dimana seseorang terikat atau tidak terikat dalam suatu perkawinan. Menikah adalah status seseorang yang terikat dalam perkawinan, baik tinggal bersama maupun terpisah, termasuk di dalamnya mereka yang kawin syah secara hokum (hokum adat, agama, negara, dsb) maupun mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri. Tidak menikah adalah status seseorang yang tidak terikat dalam suatu pernikahan. Status perkawinan sangat erat kaitannya dengan dukungan dari pasangan atau anggotra keluarga dalam proses pemeriksaan atau pengobatan suatu penyakit. Perhatian dan kasih sayang sangat dibutuhkan dalam menumbuh kembangkan seorang manusia kearah yang lebih sehat dan cerdas dan berpotensi.

·         Sikap

Sikap adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. Selain sesatu itu biasa benda, kejadian, situasi, orang-orang ata kelompok. Kalau yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap positif, sedangkan kalau perasaan tak senang maka disebut sikap negatif. Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa memperlihatkan tindakan yang tertentangan dengan sikapnya. Dalam hal ini, sikap positif wanita terhadap pentingnya deteksi dini kanker leher rahim, belum tentu akan diikuti dengan perilaku yang positif yaitu melakukan deteksi dini kanker leher rahim. Penelitian yang dilakukan oleh Purba, Evy, M, 2011 menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan pemeriksaan pap smears pada PUS yaitu sebanyak 65,3%.

·         Keterjangkauan sumber daya kesehatan

Untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Seperti halnya pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA tentulah memerlukan sarana dan prasarana seperti puskesmas, tenaga kesehatan terlatih, alat-alat pemeriksaan dan lain-lain. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Kemudahan akses atau keterjangkauan jarak ketempat pelayanan pemeriksaan, sebagai faktor pemungkin yang memungkinkan seseorang untuk melaksanakan suatu motivasi.

·         Keterpaparan informasi / media massa

Pernah diterima atau tidaknya informasi tentang kesehatan oleh masyarakat akan menentukan perilaku kesehatan masyarakat tersebut. Informasi dapat diterima melalui petugas langsung dalam bentuk penyuluhan, pendidikan kesehatan, dari perangkat desa melalui siaran dikelompok-kelompok dasawisma atau yang lain, melalui media massa, leaflet, siaran televisi dan lain-lain. Perilaku deteksi dini pada WUS juga dipengaruhi apakah wanita tersebut sudah pernah mendapat informasi tentang hal tersebut atau belum. Keterpaparan individu terhadap informasi kesehatan akan mendorong terjadinya perilaku kesehata.

·         Dukungan Suami /Keluarga

Petugas kesehatan sebagai salah satu yang yang berpengaruh dan dianggap penting oleh masyarakat sangat berperan dalam terjadinya perilaku kesehatan pada masyarakat. Peran petugas kesehatan disini adalah memberikan pengetahuan tentang kanker leher rahim dan pentingnya deteksi dini, memberikan motivasi kepada wanita yang sudah menikah untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim.

·         Dukungan Petugas Kesehatan

Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Ada beberapa macam kader yang dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah kader promosi kesehatan. Kader promosi kesehatan adalah kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan secara perorangan maupun dalam kelompok masyarakat. Sebagai kader harus bisa member contoh dan bisa menyampaikan pesan-pesan kesehatan yang di data melalui penemuan-penemuan rutin dan pelatihan-pelatihan kesehatan di tingkat desa, puskesmas maupun dinas kesehatan. Peran aktif dari kader dapat mempengaruhi mau atau tidaknya seseorang untuk melakukan pemeriksaan IVA.

·         Motivasi

Motivasi adalah proses yang berperan pada intensitas, arah dan lamanya berlangsung upaya individu kearah pencapaian saran. Motivasi WUS adalah suatu keadaan atau dorongan yang dapat mempengaruhi WUS untuk melakukan pemeriksaan IVA. Seseorang yang termotivasi melakukan pemeriksaan IVA maka dia sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita, yang selanjutnya merasa tertarik  dan akan menimbaik baik buruknya yang selanjutnya akan melakukan pemeriksaan IVA dan mendukung pemeriksaan IVA.

Referensi :

Depkes RI (2009). Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara. Jakarta : Bakti Husada

Senin, 03 Februari 2014

KONSEP DASAR MOTIVASI BERPRESTASI


A.   Pengertian Motivasi Berprestasi
Menurut Santrock (2003), motivasi berprestasi itu adalah keinginan untuk menyelesaikan sesuatu demi tercapainya suatu standar kesuksesan atau melakukan usaha dengan tujuan untuk mendapatkan suatu kesuksesan. Sedangkan menurut McClelland dan Atkinson (dalam Djiwandono, 2002), motivasi yang paling penting untuk seseorang mendapatkan prestasi yang baik adalah motivasi berprestasi, dimana seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih kegiatan yang berorientasi untuk tujuan kesuksesan.
Atkinson dan Raynor (dalam Santrock, 2003) menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, memiliki harapan untuk sukses yang lebih besar daripada ketakutan akan kegagalan, serta tekun pada setiap usahanya ketika menghadapi tugas dan keadaan yang sulit.
Lebih jauh, menurut Hawadi (2001), motivasi berprestasi adalah daya penggerak dalam diri untuk mencapai prestasi sesuai dengan yang ditetapkan oleh individu itu sendiri. Hawadi (2001) menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan menampilkan tingkah laku yang berbeda dengan orang yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah.
B.   Karakteristik atau Ciri-ciri Motivasi Berprestasi
Beberapa penelitian memaparkan karakteristik motivasi berprestasi. Karakteristik motivasi berprestasi tersebut adalah :
  1. Pemilihan Tugas
a.    Tingkat Kesulitan Tugas
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi biasanya mempunyai kecenderungan untuk berorientasi pada tugas (McClelland, 1987; Morgan dkk, 1987). Mereka memilih tugas yang memiliki kesulitan yang sedang daripada tugas yang memiliki tingkat kesulitan tinggi atau rendah (Santrock, 2001; Kingston & White, dalam Setiawati, 1996). Mereka mempunyai tujuan yang realistic dengan derajat kesukaran yang sedang dimana memungkinkan mereka untuk berhasil. (McCleland & Winter, dalam McCleland, 1987).
b.    Tugas-tugas yang Menantang
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi senang dengan tugas-tugas yang menantang (Enggen & Kauchak, 1997; Parson dkk, 2001). Sebaliknya, individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah menghindari tugas-tugas yang menantang (Eggen & Kauchak, 1997). Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mencari tugas-tugas yang menantang dimana mereka merasa tugas tersebut dapat mereka selesaikan dengan usaha dan ketekunan (Ormrod, 2003).
c.    Tugas-tugas yang memperlihatkan keunggulan
Individu ini lebih mencoba untuk mengerjakan dan menyelesaikan lebih banyak tugas serta tertarik dalam memilih tugas dalam persaingan dimana mereka berkesempatan untuk bersaing dengan orang lain karena situasi persaingan terdapat kemungkinan untuk melebihi orang lain. (McClelland, 1987).
  1. Kebutuhan akan Umpan Balik
Untuk karakteristik ini, seorang individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dapat menerima dan menginginkan umpan balik yang bersifat korektif (Eggen & Kauchak, 1997: Parson dkk, 2001). Mereka memperhatikan umpan balik konkrit dari bagaimana cara mereka mengerjakan tugas dimana umpan balik ini selanjutnya akan dipergunakan untuk memperbaiki prestasinya. (McClelland & Winter, dalam McClelland, 1987).
  1. Ketangguhan dalam Mengerjakan Tugas
Individu dengan motivasi berprestasi tinggi selalu berusaha mengatasi rintangan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan (Kingson & White, dalam Setiawati, 1996). Mereka gigih dalam mengejar waktu yang mereka sudah tetapkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan gigih untuk bekerja dengan baik (Santrock, 2001; Parson dkk, 2001).
  1. Pengambilan Tanggung Jawab
Individu yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi mempunyai kecenderungan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dikerjakannya (McClelland, 1987). Mereka bertanggung jawab terhadap permasalahan yang mereka hadapi (Morgan dkk, 1987).
  1. Penambahan Usaha-usaha tertentu
Individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah biasanya melakukan usaha-usaha kecil dalam menghadapi ujian atau tugas yang mereka hadapi (Eggen & Kauchak, 1997). Individu dengan motivasi berprestasi tinggi cenderung untuk memperbesar usahanya agar berhasil (Pintrich & Schunk, 1996).
  1. Prestasi yang Diraih
Individu dengan motivasi berprestasi rendah mempunyai standar nilai yang rendah, sedangkan individu dengan motivasi berprestasi tinggi memiliki standar nilai yang tinggi (Eggen & Kauchak, 1997). Individu dengan motivasi berprestasi tinggi menetapkan standar kemampuan yang lebih tinggi begitu standar yang terdahulu dapat dilampaui. (Ormrod, 2003).
  1. Kepuasan dalam Mengerjakan Tugas
Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi merasa berhasil dan merasa puas apabila telah mengerjakan tugas (McClelland & Winter, dalam McClelland, 1987; Morgan dkk, 1987). Mereka merasa puas apabila telah melakukan tugas dengan sebaik mungkin secara umum didasarkan pada keunggulan yang ditetapkan oleh dirinya sendiri (Kingston & White, dalam Setiawati, 1996).
  1. Ketakutan akan Kegagalan
Individu dengan motivasi berprestasi tinggi memiliki harapan untuk sukses yang lebih kuat daripada ketakutan akan kegagalan (Ormrod, 2003). Sedangkan individu dengan motivasi berprestasi rendah cenderung merasakan ketakutan akan kegagalan dan melakukan perlindungan dari perasaan malu pada saat melakukan kegagalan (Eggen & Kauchah, 1997).



C.   Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
McClelland (dalam Siregar ,2006) menyebutkan ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang, yaitu :
1.    Keluarga
Motivasi berprestasi seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial seperti orangtua dan teman (Eastwood, 1983). Sedangkan McClelland dalam Schultz & Schultz (1994) mengatakan bahwa bagaimana cara orangtua mengasuh anak berpengaruh terhadap motivasi berprestasi anak.
2.    Konsep Diri
Konsep diri merupakan bagaimana seseorang berfikir mengenai dirinya sendiri. Apabila individu percaya bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka individu akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut sehinggah berpengaruh dalam bertingkah laku.
3.    Jenis Kelamin
Prestasi yang tinggi biasanya diidentifikasikan dengan maskulinitas, sehinggah banyak para wanita belajar tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut berada diantara para pria, yang menurut Stein & Bailey (dalam Fernald & Fernald, 1999) sering disebut sebagai motivasi menghindari kesuksesan.
4.    Pengakuan dan Prestasi
Individu akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras apabila dirinya merasa diperdulikan, dihargai  atau diperhatikan oleh orang lain serta dirinya mendapatkan prestasi yang baik.
D.   Pengukuran Motivasi Berprestasi
Ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam mengukur tingkat motivasi berprestasi dari seseorang. Morgan, King, Weisz, dan Schopler (1986) menyebutkan bahwa alat ukur yang paling sering dipergunakan adalah :
1.    Tes Proyeksi
Pengukurannya yaitu dengan cara menyimpulkan tema dari cerita yang dibuat oleh individi berdasarkan gambar yang diperlihatkan kepadanya. Adapun tes proyeksi ini yang paling terkenal dalam mengukur motivasi berprestasi yaitu Thematic Apperception test (TAT) dari McClelland yang merupakan modifikasi dari Murray.
2.    Kuesioner
Alat ini terdiri atas sejumlah pernyataan atau pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan atau apa yang lebih suka dilakukan oleh individu.
3.    Observasi tingkah laku dalam situasi tertentu
4.    Analisa karya seni atau literatur dari tulisan individu yang bersangkutan.
Dari beberapa alat ukur yang telah diutarakan diatas, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan alat ukur berupa kuesioner dalam bentuk skala. Adapun kuesioner ini sendiri merupakan suatu daftar yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan atau pernyataan mengenai suatu hal dalam suatu bidang untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari para responden dalam suatu penelitian (Koentjaraningrat, dalam Oktarina, 2002).

Jumat, 29 November 2013

Karya Tulis BBLR


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan, semakin bertambah pula permasalahan – permasalahan yang di hadapi dalam bidang kesehatan. Jika di amati dengan baik seharusnya dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan, semakin berkurang pula masalah – masalah kesehatan yang muncul. Tapi kenyataannya berkata lain, yang muncul sekarang terutama di Negara Republik Indonesia ini masalah – masalah kesehatan belum bisa teratasi dengan baik. Dengan contoh, dapat dilihat angka kemataian ibu dan bayi dari tahun ketahun semakin bertambah dengan berbagai peyebab kematian yang berbeda – beda. Salah satunya banyak ibu yang melahirkan dengan BBLR (berat bayi lahir rendah), yang mengakibatkan kematian pada bayi.
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO pada tahun 2011 diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan (WHO, 2011).  Angka kejadian di Indonesia Angka kejadian BBLR di Indonesia adalah 10,5% masih diatas angka rata-rata Thailand 9,6% dan Vietnam 5,2%, (http://kuliahbidan.wordpress.com). Tahun 2011 diketahui bahwa jumlah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Jawa Timur mencapai 3,32% yang diperoleh dari presentase 19.712 dari 594.461 bayi baru lahir yang di timbang, dan angka kematian neonatal dari data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang tertinggi disebabkan karena BBLR yaitu mencapai 38,03% di banding penyebab kematian neonatal lain (Laporan Dinkes Kab. / Kota).
Sebagian besar dari masalah bayi baru lahir adalah sering timbul pada periode perinatal. Masalah-masalah ini bukan hanya bisa menyebabkan kematian, tetapi juga besarnya angka kecacatan dan angka penyakit. (WHO, 1996).
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gram (2499 gram). (Abdul Bari Saifuddin, 2001). Dahulu dengan neonatus yang berat badan lahir kurang dari 2500 gram ataupun dengan lahir 2500 gram disebut dengan premature. Pada tahun 1964 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants (BBLR). (Yushananta, 2001)
BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004).
Kini telah banyak digunakan oleh Negara – Negara berkembang di dunia, dalam menangani masalah BBLR yaitu menggunakan metode kangguru. Metode kangguru ini sendiri adalah Menurut Paranesia (2005) adalah” cara merawat bayi dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok dan topi) di letakkan secara tegak/vertikal di dada antara kedua payudara ibu, sehingga terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu secara kontinyu dan bayi memperoleh panas sesuai suhu ibunya melalui proses konduksi”.
  Metode ini lebih membuktikan dalam meningkatkan berat badan BBLR dari pada menggunakan incubator pada BBLR. Caranyapun mudah dilakukan oleh masyarakat, bisa di lakukan di rumah sakit ataupun di rumah..
Seorang bayi yang lahir prematur, umumnya akan diletakkan ke dalam inkobator agar suhu tubuhnya tetap normal serta diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Selain inkubator suhu tubuh bayi dapat dipertahankan kehangatannya dengan metode kanguru. Dulu metode ini dianggap hanya untuk orang miskin karena kalau orang kaya diletakkan di inkubator, tapi berdasarkan pengalaman, hasilnya malah lebih efektif metode kanguru (Rahmi, 2008).
Setelah beberapa penelitian dilakukan membuktikan bahwa metode kangguru ini banyak manfaatnya, diantaranya adalah :
1.         Menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung, dan pernapasan bayi
2.         Meningkatkan hubungan emosi ibu-anak
3.         Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi lebih baik lagi
4.         Bayi menjadi tidak berlama-lama menangis
5.         Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi
6.         Meningkatkan produksi ASI
7.         Menurunkan resiko infeksi selama dalam perawatan di rumah sakit
8.         Mempersingkat masa rawat di rumah sakit

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dengan semakin bertambahnya angka kematian pada bayi dengan BBLR di dunia maupun di Indonesia dan kini telah muncul metode yang lebih mudah untuk dilakukan baik oleh ibu ataupun rumah sakit yaitu metode kanguru, maka rumusan masalah pada studi kasus ini adalah “bagaimana penerapan metode kangguru dalam mengatasi BBLR”.

C.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.         Tujuan Umum
Dibuktikannya  metode kangguru untuk mengatasi masalah suhu tubuh pada bayi BBLR.
2.         Tujuan Khusus
Diketahuinya definisi BBLR, Penyebab dari BBLR, epidemiologi dari BBLR, dan cara perawatan BBLR dengan metode kanguru beserta manfaatnya.

D.      Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari hasil penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.         Untuk mengetahui tentang perkembangan manfaat metode kanguru dalam mata kuliah maternitas. \
2.         Untuk ibu yang mempunyai BBLR ataupun ibu yang masih mengandung dapat mengetahui cara yang lebih mudah yang dapat digunakan bila terjadi BBLR.
3.         Bagi tenaga kesehatan, dan sarana – sarana kesehatan yang ada metode kangguru ini adalah metode yang paling mudah digunakan selain incubator.