Seseorang dengan attitude negatif selalu berpikir, “Saya tidak bisa” Seseorang dengan attitude positif selalu berpikir, “Saya pasti bisa”. Weblog Adi Subagio, S.Pd berisi tentang materi kuliah untuk mahasiswa . Materi hanya merupakan resume, kewajiban bagi mahasiswa untuk membaca lebih lanjut pada referensi yang sesuai. Banyak kekurangan dalam penulisan, untuk itu saran dan kritik untuk perbaikan penulisan sangat diharapkan (klik komentar).
Sabtu, 10 Mei 2014
IVA (INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT)
IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk
mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009)
Tujuan IVA
Senin, 03 Februari 2014
KONSEP DASAR MOTIVASI BERPRESTASI
A.
Pengertian
Motivasi Berprestasi
Menurut Santrock (2003), motivasi
berprestasi itu adalah keinginan untuk menyelesaikan sesuatu demi tercapainya
suatu standar kesuksesan atau melakukan usaha dengan tujuan untuk mendapatkan
suatu kesuksesan. Sedangkan menurut McClelland dan
Atkinson (dalam Djiwandono, 2002), motivasi yang paling penting untuk
seseorang mendapatkan prestasi yang baik adalah motivasi berprestasi, dimana
seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih kegiatan yang
berorientasi untuk tujuan kesuksesan.
Atkinson dan Raynor (dalam Santrock, 2003)
menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi yang tinggi,
memiliki harapan untuk sukses yang lebih besar daripada ketakutan akan
kegagalan, serta tekun pada setiap usahanya ketika menghadapi tugas dan keadaan
yang sulit.
Lebih jauh, menurut Hawadi
(2001), motivasi berprestasi adalah daya penggerak dalam diri untuk mencapai
prestasi sesuai dengan yang ditetapkan oleh individu itu sendiri. Hawadi (2001)
menambahkan bahwa seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan
menampilkan tingkah laku yang berbeda dengan orang yang memiliki motivasi
berprestasi yang rendah.
B.
Karakteristik
atau Ciri-ciri Motivasi Berprestasi
Beberapa penelitian
memaparkan karakteristik motivasi berprestasi. Karakteristik motivasi
berprestasi tersebut adalah :
- Pemilihan Tugas
a. Tingkat Kesulitan Tugas
Individu yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi biasanya mempunyai kecenderungan untuk berorientasi pada
tugas (McClelland, 1987; Morgan dkk, 1987). Mereka memilih tugas yang memiliki
kesulitan yang sedang daripada tugas yang memiliki tingkat kesulitan tinggi
atau rendah (Santrock, 2001; Kingston & White, dalam Setiawati, 1996).
Mereka mempunyai tujuan yang realistic dengan derajat kesukaran yang sedang
dimana memungkinkan mereka untuk berhasil. (McCleland & Winter, dalam
McCleland, 1987).
b. Tugas-tugas yang Menantang
Individu yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi senang dengan tugas-tugas yang menantang (Enggen &
Kauchak, 1997; Parson dkk, 2001). Sebaliknya, individu yang memiliki motivasi
berprestasi rendah menghindari tugas-tugas yang menantang (Eggen & Kauchak,
1997). Individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi mencari tugas-tugas
yang menantang dimana mereka merasa tugas tersebut dapat mereka selesaikan
dengan usaha dan ketekunan (Ormrod, 2003).
c. Tugas-tugas yang memperlihatkan
keunggulan
Individu ini lebih mencoba untuk
mengerjakan dan menyelesaikan lebih banyak tugas serta tertarik dalam memilih
tugas dalam persaingan dimana mereka berkesempatan untuk bersaing dengan orang
lain karena situasi persaingan terdapat kemungkinan untuk melebihi orang lain.
(McClelland, 1987).
- Kebutuhan akan Umpan Balik
Untuk karakteristik ini, seorang
individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dapat menerima dan
menginginkan umpan balik yang bersifat korektif (Eggen & Kauchak, 1997:
Parson dkk, 2001). Mereka memperhatikan umpan balik konkrit dari bagaimana cara
mereka mengerjakan tugas dimana umpan balik ini selanjutnya akan dipergunakan
untuk memperbaiki prestasinya. (McClelland & Winter, dalam McClelland,
1987).
- Ketangguhan dalam Mengerjakan Tugas
Individu dengan motivasi berprestasi
tinggi selalu berusaha mengatasi rintangan untuk mendapatkan apa yang mereka
inginkan (Kingson & White, dalam Setiawati, 1996). Mereka gigih dalam
mengejar waktu yang mereka sudah tetapkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang
sulit dan gigih untuk bekerja dengan baik (Santrock, 2001; Parson dkk, 2001).
- Pengambilan Tanggung Jawab
Individu yang mempunyai motivasi
berprestasi tinggi mempunyai kecenderungan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang
dikerjakannya (McClelland, 1987). Mereka bertanggung jawab terhadap
permasalahan yang mereka hadapi (Morgan dkk, 1987).
- Penambahan Usaha-usaha tertentu
Individu yang memiliki motivasi
berprestasi rendah biasanya melakukan usaha-usaha kecil dalam menghadapi ujian
atau tugas yang mereka hadapi (Eggen & Kauchak, 1997). Individu dengan
motivasi berprestasi tinggi cenderung untuk memperbesar usahanya agar berhasil
(Pintrich & Schunk, 1996).
- Prestasi yang Diraih
Individu dengan motivasi berprestasi
rendah mempunyai standar nilai yang rendah, sedangkan individu dengan motivasi
berprestasi tinggi memiliki standar nilai yang tinggi (Eggen & Kauchak,
1997). Individu dengan motivasi berprestasi tinggi menetapkan standar kemampuan
yang lebih tinggi begitu standar yang terdahulu dapat dilampaui. (Ormrod,
2003).
- Kepuasan dalam Mengerjakan Tugas
Individu yang memiliki motivasi
berprestasi tinggi merasa berhasil dan merasa puas apabila telah mengerjakan
tugas (McClelland & Winter, dalam McClelland, 1987; Morgan dkk, 1987).
Mereka merasa puas apabila telah melakukan tugas dengan sebaik mungkin secara
umum didasarkan pada keunggulan yang ditetapkan oleh dirinya sendiri (Kingston
& White, dalam Setiawati, 1996).
- Ketakutan akan Kegagalan
Individu dengan motivasi berprestasi
tinggi memiliki harapan untuk sukses yang lebih kuat daripada ketakutan akan
kegagalan (Ormrod, 2003). Sedangkan individu dengan motivasi berprestasi rendah
cenderung merasakan ketakutan akan kegagalan dan melakukan perlindungan dari
perasaan malu pada saat melakukan kegagalan (Eggen & Kauchah, 1997).
C.
Faktor-faktor
Yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
McClelland (dalam
Siregar ,2006) menyebutkan
ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi seseorang, yaitu
:
1. Keluarga
Motivasi berprestasi seseorang dapat
dipengaruhi oleh lingkungan sosial seperti orangtua dan teman (Eastwood, 1983). Sedangkan McClelland
dalam Schultz & Schultz (1994) mengatakan bahwa bagaimana cara
orangtua mengasuh anak berpengaruh terhadap motivasi berprestasi anak.
2. Konsep Diri
Konsep diri merupakan bagaimana
seseorang berfikir mengenai dirinya sendiri. Apabila individu percaya bahwa
dirinya mampu untuk melakukan sesuatu, maka individu akan termotivasi untuk
melakukan hal tersebut sehinggah berpengaruh dalam bertingkah laku.
3. Jenis Kelamin
Prestasi yang tinggi biasanya
diidentifikasikan dengan maskulinitas, sehinggah banyak para wanita belajar
tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut berada diantara para pria, yang
menurut Stein & Bailey (dalam Fernald &
Fernald, 1999) sering disebut sebagai motivasi menghindari kesuksesan.
4. Pengakuan dan Prestasi
Individu akan lebih termotivasi untuk
bekerja lebih keras apabila dirinya merasa diperdulikan, dihargai atau diperhatikan oleh orang lain serta
dirinya mendapatkan prestasi yang baik.
D.
Pengukuran
Motivasi Berprestasi
Ada berbagai macam cara
yang dapat dilakukan dalam mengukur tingkat motivasi berprestasi dari
seseorang. Morgan, King, Weisz, dan Schopler (1986) menyebutkan bahwa alat ukur
yang paling sering dipergunakan adalah :
1. Tes Proyeksi
Pengukurannya yaitu
dengan cara menyimpulkan tema dari cerita yang dibuat oleh individi berdasarkan
gambar yang diperlihatkan kepadanya. Adapun tes proyeksi ini yang paling
terkenal dalam mengukur motivasi berprestasi yaitu Thematic Apperception
test (TAT) dari McClelland yang merupakan modifikasi dari Murray.
2. Kuesioner
Alat ini terdiri atas sejumlah
pernyataan atau pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan atau apa yang lebih
suka dilakukan oleh individu.
3. Observasi tingkah laku dalam situasi
tertentu
4. Analisa karya seni atau literatur dari
tulisan individu yang bersangkutan.
Dari beberapa alat ukur
yang telah diutarakan diatas, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan
alat ukur berupa kuesioner dalam bentuk skala. Adapun kuesioner ini sendiri merupakan
suatu daftar yang berisikan suatu rangkaian pertanyaan atau pernyataan mengenai
suatu hal dalam suatu bidang untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari
para responden dalam suatu penelitian (Koentjaraningrat, dalam Oktarina, 2002).
Jumat, 29 November 2013
Karya Tulis BBLR
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan, semakin bertambah pula
permasalahan – permasalahan yang di hadapi dalam bidang kesehatan. Jika di
amati dengan baik seharusnya dengan semakin bertambahnya ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam bidang kesehatan, semakin berkurang pula masalah – masalah
kesehatan yang muncul. Tapi kenyataannya berkata lain, yang muncul sekarang
terutama di Negara Republik Indonesia ini masalah – masalah kesehatan belum
bisa teratasi dengan baik. Dengan contoh, dapat dilihat angka kemataian ibu dan
bayi dari tahun ketahun semakin bertambah dengan berbagai peyebab kematian yang
berbeda – beda. Salah satunya banyak ibu yang melahirkan dengan BBLR (berat
bayi lahir rendah), yang mengakibatkan kematian pada bayi.
Prevalensi bayi berat lahir rendah
(BBLR) menurut WHO pada tahun 2011 diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di
dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk
faktor utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus,
bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya
dimasa depan (WHO, 2011).
Angka kejadian di Indonesia Angka kejadian BBLR di Indonesia adalah
10,5% masih diatas angka rata-rata Thailand 9,6% dan Vietnam 5,2%, (http://kuliahbidan.wordpress.com).
Tahun 2011 diketahui bahwa jumlah bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
di Jawa Timur mencapai 3,32% yang diperoleh dari presentase 19.712 dari 594.461
bayi baru lahir yang di timbang, dan angka kematian neonatal dari data Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang tertinggi disebabkan karena BBLR yaitu
mencapai 38,03% di banding penyebab kematian neonatal lain (Laporan Dinkes Kab.
/ Kota).
Sebagian besar dari masalah bayi
baru lahir adalah sering timbul pada periode perinatal. Masalah-masalah ini
bukan hanya bisa menyebabkan kematian, tetapi juga besarnya angka kecacatan dan
angka penyakit. (WHO, 1996).
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat
kelahiran kurang dari 2.500 gram (2499 gram). (Abdul Bari Saifuddin, 2001).
Dahulu dengan neonatus yang berat badan lahir kurang dari 2500 gram ataupun
dengan lahir 2500 gram disebut dengan premature. Pada tahun 1964 oleh WHO semua
bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth
Weight Infants (BBLR). (Yushananta, 2001)
BBLR adalah bayi dengan berat lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat
bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir. (Ikatan Dokter Anak
Indonesia, 2004).
Kini telah banyak digunakan oleh
Negara – Negara berkembang di dunia, dalam menangani masalah BBLR yaitu
menggunakan metode kangguru. Metode kangguru ini sendiri adalah Menurut
Paranesia (2005) adalah”
cara merawat
bayi dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok dan topi) di letakkan secara
tegak/vertikal di dada antara kedua payudara ibu, sehingga terjadi kontak kulit
bayi dengan kulit ibu secara kontinyu dan bayi memperoleh panas sesuai suhu
ibunya melalui proses konduksi”.
Metode ini lebih membuktikan dalam meningkatkan berat badan BBLR dari
pada menggunakan incubator pada BBLR. Caranyapun mudah dilakukan oleh
masyarakat, bisa di lakukan di rumah sakit ataupun di rumah..
Seorang bayi yang lahir prematur,
umumnya akan diletakkan ke dalam inkobator agar suhu tubuhnya tetap normal
serta diberi bantuan oksigen untuk pernafasan. Selain inkubator suhu tubuh bayi
dapat dipertahankan kehangatannya dengan metode kanguru. Dulu metode ini
dianggap hanya untuk orang miskin karena kalau orang kaya diletakkan di
inkubator, tapi berdasarkan pengalaman, hasilnya malah lebih efektif metode
kanguru (Rahmi, 2008).
Setelah beberapa penelitian
dilakukan membuktikan bahwa metode kangguru ini banyak manfaatnya, diantaranya
adalah :
1.
Menstabilkan suhu
tubuh, denyut jantung, dan pernapasan bayi
2.
Meningkatkan hubungan
emosi ibu-anak
3.
Meningkatkan
pertumbuhan dan berat badan bayi lebih baik lagi
4.
Bayi menjadi tidak
berlama-lama menangis
5.
Memperbaiki keadaan
emosi ibu dan bayi
6.
Meningkatkan produksi
ASI
7.
Menurunkan resiko
infeksi selama dalam perawatan di rumah sakit
8.
Mempersingkat masa
rawat di rumah sakit
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang dengan
semakin bertambahnya angka kematian pada bayi dengan BBLR di dunia maupun di
Indonesia dan kini telah muncul metode yang lebih mudah untuk dilakukan baik oleh
ibu ataupun rumah sakit yaitu metode kanguru, maka rumusan masalah pada studi
kasus ini adalah “bagaimana penerapan metode kangguru dalam mengatasi BBLR”.
C. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah
sebagai berikut:
1.
Tujuan Umum
Dibuktikannya metode
kangguru untuk mengatasi masalah suhu tubuh pada bayi BBLR.
2.
Tujuan Khusus
Diketahuinya definisi BBLR, Penyebab dari BBLR, epidemiologi
dari BBLR, dan cara perawatan BBLR dengan metode kanguru beserta manfaatnya.
D. Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat dari hasil penulisan
karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui tentang
perkembangan manfaat metode kanguru dalam mata kuliah maternitas. \
2.
Untuk ibu yang mempunyai BBLR
ataupun ibu yang masih mengandung dapat mengetahui cara yang lebih mudah yang
dapat digunakan bila terjadi BBLR.
3.
Bagi tenaga kesehatan, dan sarana –
sarana kesehatan yang ada metode kangguru ini adalah metode yang paling mudah
digunakan selain incubator.
Langganan:
Postingan (Atom)