Selasa, 13 Mei 2014

SEKILAS TENTANG ANEMIA



SEKILAS TENTANG ANEMIA

1.    Pengertian Anemia
Sejumlah jenis zat gizi memegang peranan dalam pembentukan darah merah (hemopoiesis). Yang biasa dimaksud dengan pembentukan darah ialah pembentukan arythrocyt dengan hemoglobin di dalamnya.

Zat gizi yang berperan dalam hemopoiesis ialah protein, berbagai vitamin dan mineral. Diantara vitamin ialah asam folat, vitamin B12, vitamin C, dan vitamin E, sedangkan di antara mineral ialah F, Cu, dan mungkin pula Co. yang paling menonjol menimbulkan hambatan hempoiesis ada dua kelompok (Sediaoetama, 2010).

2.    Etiologi
Anemia dalam kehamilan sama seperti yang terjadi pada wanita tidak hamil. Semua anemia yang terdapat pada wanita usia reproduktif dapat menjadi ormon (penyulit dalam kehamilan). Penyebabnya (Proverawati, 2010) antara lain:
a)    Maksi yang meningkat
e)    Kehilangan darah anan yang kurang bergizi

b)    Gangguan pencernaan dan malabsorpsi
c)    Kurangnya zat besi dalam makanan (kurang zat besi dalam diet)
d)    Kebutuhan zat be

banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain.
f)     Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain.

3.    Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala ibu hamil dengan anemia adalah sebagai berikut (Proverawati, 2010): keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, sementara tensi masaih dalam batas normal (perlu dicurigai anemia defisiensi), mengalami malnutrisi, cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah), dan keluhan mual muntah lebih berat pada hamil muda.

Walaupun tanpa gejala, anemia dapat menyebabkan tanda dan gejala (Varney, 2007) yaitu:
a)    Letih, sering mengantuk, malaise.
b)    Pusing, lemah.
c)    Nyeri kepala
d)    Luka pada lidah.
e)    Kulit pucat.
f)     Membran mukosa pucat (misal konjungtiva).
g)    Bantalan kuku pucat.
h)   Tidak ada nafsu makan, mual dan muntah

Riwayat yang berhubungan dengan potensi kelainan hematologi (Varney, 2007) sebagai berikut:
a.    Riwayat anemia karena kekurangan zat besi.
b.    Penyakit sel sabit.
c.    Menderita talasemia atau riwayat talasemia dalam keluarga.
d.    ITP (Idiopathic thrombocytopenic purpura).
e.    Gangguan perdarahan
f.     Riwayat pengobatan
g.    Kehamilan sebelumnya disertai peningkatan perdarahan (akibat episiotomi, insisi sesaria, atau untuk terapi darah sebelum, atau memar pada lokasi pemasangan infus).
h.    Jika anak sebelumnya mengalami perdarahan, misal setelah sirkumsisi.
i.      Infeksi HIV (terkait erat dengan anemia dan sindrom seperti ITP).
j.      Riwayat diet: 1).Sumber makanan kaya zat besi; 2).Pica, misal mengidam berlebihan dan ingin memakan bahan makanan atau sesuatu seperti tanah liat atau kotoran, zat pati, es.

4.    Klasifikasi Anemia
Secara umum anemia dalam kehamilan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) bagian sebagai berikut:

a.    Anemia defisiensi Besi
Anemia defisiensi besai adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah (Proverawati, 2010). Pemeriksaan awal yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi, sediaan apus eritrosit, pengukuran konsentrasi besi serum, dan feritin serum. Gambaran morfologi eritrosit mikrositik hipokrom lebih jarang terjadi ditemukan pada wanita hamil daripada wanita biasa dengan HB sama. Diagnosis pada wanita dengan anemia sedang biasanya berdasarkan penghapusan penyebab anemia yang lain. Jika wanita tersebut diberikan terapi besi adekuat, terdapat peningkatan hitung rerikulosit (Mansjoer, 2007).

Penatalaksanaan berupa pemberian Fe, sulfat, fumarat, atau glukonat secara oral dengan dosis 1 x 200 mg. Tidak perlu diberikan asam askorbat atau sari buah. Jika tidak dapat secara oral, berikan secara paranteral. Untuk memenuhi cadangan besi, berikan terapi sampai 3 bulan setelah anemia diperbaiki (Mansjoer, 2007).

b.    Anemia akibat perdarahan
Anemia Megaloblastik disebabkan defisiensi asam folat (pterylglutamic acid), walaupun jarang (Proverawati, 2010). Anemia akibat perdarahan biasanya lebih jelas ditemukan pada masa nifas, dapat disebabkan plasenta previa atau solution plansenta, atau anemia sebelum melahirkan. Pada awal kehamilan, sering disebabkan aborsi, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. Perdarahan massif harus segera ditangani untu mengembalikan dan mempertahankan perfusi organ vital. Setelah hipovolemia teratasi yang Hb-nya > 7 g/dl, tidak demam, dan stabil tanpa risiko perdarahan berikutnya. Tetapi Fe selama 3 bulan lebih baik daripada tranfusi darah (Mansjoer, 2007).

c.    Anemia Megaloblastik
Anemia Megaloblastik biasanya disebabkan defisiensi asam folat sering ditemukan pada wanita yang jarang mengkonsumsi sayuran hijau segar atau makanan dengan protein hewani tinggi. Gejalanya meliputi mual, muntah, dan anoreksia yang bertambah berat. Penatalaksanaannya berupa pemberian asam folat 1 mg/hari secara oral, diet yang bergizi dan besi. Biasanya 4-7 hari setelah terapi dimulai, hitung retilosit mulai meningkat dan leucopenia serta trombositopenia yang terjadi terkoreksi. Pencegahannya melalui pemberian asam folat 4 mg/hari sebelum dan selama kehamilan (Mansjoer, 2007).

d.    Anemia Dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin kurang dari 11 gg/dl selama kehamilan pada trimester 1 dan ke-3, dan kurang dari 10 g/dl selama masa postpartum dan trimester 2 (Proverawati, 2010).

Wanita hamil atau dalam masa nifas dinyatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya dibawah 10 gl/dl. Perubahan fisiologis yang terjadi pada kehamilan sering menyulitkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit-penyakit kelainan darah. Penurunan kadar HB pada wanita sehat yang hamil disebabkan ekspansi volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan volume sel darah merah dan hemoglobin. Hal ini terutama terjadai pada trimester kedua (Mansjoer, 2007).

Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11 g% pada trimester 1 dan 3, atau kadar < 10.5gr% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Saifudin, 2007).

e.    Diagnosis Anemia Kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkuang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan metode Sahli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III (Proverawati, 2010).

Pemeriksaan dan pengawasan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
1) Hb 11 gr%             : tidak anemia
2)    Hb 9-10 gr%      : anemia ringan
3)    Hb 7-8 gr%         : anemia sedang
4)    Hb < 7 gr%         : anemia berat

f.     Penatalaksanaan anemia pada ibu hamil
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit.

Pengobatan dilakukan sesuai dengan jenis anemianya. Kebanyakan ibu hamil menderita anemia defisiensi besi. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian tablet besi yang bisa dilakukan dengan berbagai cara (Proverawati, 2010).

a.    Terapi oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 gr%/bulan. Pemberian terapi zat besi oral tidak boleh dihentikan setelah hemoglobin mencapai nilai normal, tetapi harus dilanjutkan selama 2-3 bulan lagi untuk memperbaiki cadangan besi. Sebelum dilakukan pengobatan harus dikalkulasi terlebih dahulu jumlah zat besi yang dibutuhkan. Misalnya hemoglobin sebelumnya 6 gr/dl, maka kekurangan hemoglobin sebesar 12-6= 6 gr /dl, sehingga kebutuhan zat besi adalah 6 x 200 mg. kebutuhan besi untuk mencapai cadangan adalah 500 fig, maka dosis Fe secara keseluruhan adalah 1200 + 500 = 1700 mg.

Fero sulfat:          3 tablet / hari, a 300 mg mengandung 60 mg Fe
Fero glukonat: 5 tablet / hari, a 300 mg mengandung 37 mg Fe
Fero fumarat : 3 tablet / hari, a 200 mg mengandung 67 mg Fe
Efek samping: konstipasi, berak hitam, mual dan muntah.
Respon: hasil yang dicapai adalah HB meningkat 0,3-1 gr per minggu, biasanya dalam 4-6 minggu perawatan hematokrit meningkat sampai nilai yang diharapkan, peningkatan biasanya dimulai pada minggu ke 2. Peningkatan retikulosit 5-10 hari setelah pemberian terapi besi bisa memberikan bukti awal untuk peningkatan produksi sel darah merah. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia.

b.    Terapi parenteral baru diperlukan apabila penderita tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua

5.    Faktor-faktor Yang Melatarbelakangi Kejadian Anemia
Faktor – faktor yang melatarbelakangi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu :
1)    Umur ibu
Anemia pada ibu hamil akan diperberat bila hamil pada usia < 20 tahun, karena ibu muda tersebut membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta bayi yang dikandungnya. Resiko kematian pada kelompok umur dibawah 20 tahun dan pada kelompok umur diatas 35 tahun adalah tiga kali lebih tinggi dari kelompok unur reproduksi sehat (Riyanto, 2009).
2)    Umur Kehamilan
Umur kehamilan adalah lamanya kehamilan dihitung dari hari pertama haid terakhir sampai saat pemeriksaan ibu hamil. Umur kehamilan adalah periode antepartum mencakup waktu kehamilan mulai dari pertama periode terlambat menstruasi sampai dimulainya persalinan yang ditandai dengan mulainya periode intranatal. Umur kehamilan dapat ditentukan dengan rumus Naegele, Tinggi fundus uteri, Palpasi Abdominal, Quickening (Persepsi gerakan janin pertama), dan Ultrasonografi (Kusmiyati, 2010).
Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil terjadi (hemodilusi) pengenceran dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada usia kehamilan 32 sampai 34 minggu. Pemeriksaan Hb pada kunjungan pertama dan pada kehamilan 30 minggu. Untuk saat ini anemia dalam kandungan kadar Hb < 11 gr% pada trimester I dan III, atau Hb < 10,5 gr% pada trimester II. Hal ini disebabkan pengenceran darah menjadi nyata dengan lanjutnya umur kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan meningkat pula (Manuaba, 2010).
3)    Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan. Janin yang lahir hidup atau mati setelah viabilitas dicapai, tidak mempengaruhi paritas. Paritas adalah ibu yang pernah melahirkan mempunyai pengalaman tentang ANC sehingga dari pengalaman yang terdahulu kembali dilakukan untuk menjaga kesehatan kehamilannya. Dalam kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah ibu dan membentuk sel darah merah janin serta plasenta. Jika persediaan cadangan zat besi berkurang, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya, maka makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehingan zat besi dan makin menjadi anemis (Manuaba, 2010).
4)    Keteraturan ANC
Antenatal care merupakan pelayanan yang diberikan pada ibu hamil untuk memonitor, mendukung kesehatan ibu dan mendeteksi ibu apakah ibu hamil normal atau bermasalah. Dengan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) kejadian anemia dapat diditeksi sedini mungkin sehingga diharapkan ibu dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan persalinannya. Selain itu masih rendah kesadaran ibu – ibu hamil untuk memeriksa kehamilannya pada sarana kesehatan, sehingga faktor – faktor yang sesungguhnya dapat dicegah atau komplikasi kehamilan yang dapat diperbaiki serta diobati tidak segera ditangani. Seringkali mereka datang setelah keadaannya buruk. Ibu hamil secara ideal melaksanakan perawatan kehamilan maksimal 13-15 kali, dan minimal empat kali yaitu satu kali pada trimester satu, satu kali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dikatakan teratur jika ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan ≥ 4 kali kunjungan, dan tidak teratur jika ibu hamil hanya melakukan pemeriksaan kehamilan < 2 kali kunjungan (Rukiyah, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

1.    Baliwati, A. 2009. Pengantar Ilmu Gizi. Liberty:Jogjakarta.
2.    http://bankdata.depkes.go.id._profil_kesehatan_indonesia, 2009 (Diakses pada 15 Mei 2012)
3.    Imelda. 2009. Perawatan Kehamilan dan Bayi. Pustaka Pelajar : Jakarta
4.    Mansjoer, A. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. EGC : Jakarta.
5.    Muliarini, P. 2010. Pola Makan dan Gaya Hidup Sehat Selama Kehamilan. EGC : Jakarta.
6.    Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta.
7.    Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta.
8.    Prawirohardjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. FKUI : Jakarta
9.    Profil Dinas Kesehatan Jombang, 2011
10. Proverawati, A. 2010. Buku Ajar Gizi untuk Kebidanan. Medical Book : Jogjakarta:
11. Puskesmas Mojoagung. 2011
12. Ridwan. 2009. Http://stetoskopmerah.blogspot.com/2009/04/studi_kasus_ kontrol_faktor_biomedis_html (diaskes tanggal 20 Juni 2012)
13. Rustam, M. 2005. .Sinopsis Obstetri. EGC : Jakarta.
14. Saifudin, B. 2007. Ilmu Kebidanan. YBPP : Jakarta.
15. Sediaoetamo, A. 2010. Pengantar Ilmu Gizi. Dian Rakyat:Bandung
16. Syafiq, M. 2010. Gizi untuk Kesehatan Masyarakat. FKUI : Jakarta.
17. Sulistyoningsih, H. 2011. Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Graha Ilmu : Jogjakarta.
18. Tarwoto. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Transinfo Medika : Jakarta.
19. Varney, H. 2007. Asuhan Kebidanan. EGC : Jakarta.
20. Ummi, H.  2010. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis. Salemba Medika : Jakarta.

Sabtu, 10 Mei 2014

IVA (INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT)

Pengertian IVA

IVA (inspeksi visual dengan asam asetat) merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009)

IVA merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung (dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5% (Wijaya Delia, 2010).

Laporan hasil konsultasi WHO menyebutkan bahwa IVA dapat mendeteksi lesi tingkat pra kanker (high-Grade Precanceraus Lesions) dengan sensitivitas sekitar 66-96% dan spesifitas 64-98%. Sedangkan nilai prediksi positif (positive predective value) dan nilai prediksi negatif (negative predective value) masing-masing antara 10-20% dan 92-97% (Wijaya Delia, 2010).

Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi.

Pada pemeriksaan ini, pemeriksaan dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada jaringan epitel.

Serviks yang diberi larutan asam asetat 5% akan merespon lebih cepat daripada larutan 3%. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapat hasil gambaran serviks yang normal (merah homogen) dan bercak putih (displasia) (Novel S Sinta,dkk,2010). 

Tujuan IVA
Mengetahui cara penanganan deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA.

Kategori Pemeriksaan IVA
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah satu kategori yang dapat dipergunakan adalah:
1.IVA negatif = Serviks normal.
2.IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan jinak lainnya (polip serviks).
3.IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau kanker serviks in situ).
4.IVA-Kanker serviks
Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan temuan stadium kanker serviks, masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks bila ditemukan masih pada stadium invasif dini (stadium IB-IIA)

Alat dan Bahan Pelaksanaan skrining IVA

Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA,
dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
-Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi.
-Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada pada posisi litotomi.
-Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
-Spekulum vagina
-Asam asetat (3-5%)
-Swab-lidi berkapas
-Sarung tangan

Penatalaksanaan
Pemeriksaan IVA dilakukan dengan spekulum melihat langsung leher rahim yang telah dipulas dengan larutan asam asetat 3-5%. Jika tidak ada perubahan warna atau tidak muncul plak putih, maka hasil pemeriksaan dinyatakan negatif.

Sebaliknya, jika leher rahim berubah warna menjadi merah dan timbul plak putih, maka dinyatkan positif lesi atau kelainan pra kanker.

Namun jika masih tahap lesi, pengobatannya cukup mudah. Bisa langsung diobati dengan metode krioterapi atau gas dingin yang menyemprotkan gas CO2 atau N2 ke leher rahim.
Sensitivitasnya lebih dari 90 % dan spesifitasinya sekitar 40 %. Dengan metode diagnosis yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit tersebut, lesi prakanker bisa dideteksi sejak dini. Dengan demikian, bisa segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kanker stadium lanjut.
Kalau dari hasil tes IVA dideteksi adanya lesi prakanker, yang terlihat dari adanya perubahan warna dinding leher rahim dari merah muda menjadi putih, artinya perubahan sel akibat infeksi tersebut baru terjadi di sekitar epitel. Itu bisa dimatikan atau dihilangkan dengan dibakar atau dibekukan. Dengan demikian, penyakit kanker yang disebabkan human papilloma virus (HPV) itu tidak jadi berkembang dan merusak organ tubuh yang lain.

 Faktor yang diasumsikan berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker servik Metode IVA

·         Umur

Umur individu terhitung mulai saat dilahitkan sampai berulang tahun. semakin cukup umur, tingkat kematan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Kanker leher rahim dapat terjadi pada usia mulai 18 taun. Pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia dianjurkan bagi semua perempuan berusia 30-0 tahun kasus kejadian kanker leher rahim palig tinggi terjadi pada usia 40 dan 50 tahun, sehingga tes harus dilakukan pada usia dimana lesi pra kanker lebih mungkin terdeteksi, yaitu biasanya sampai 20 tahun lebih awal (Depkes RI, 2009).

·         Pendidikan

Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakat. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga ia dapat mencapai sosial dan mengembangkan kepribadiannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula menerima pengetahuan yang dimilikinya, dan jika tingkat pendidikan rendah, maka akan menghambat perkembangan perilaku seseorang terhadap penerimaan, informasi, dan nilai-nilai yang diperkenalkan. Seperti menurut Purba, EVI M, dalam peneliiannya tahun 2011 bahwa ibu yang mempunyai pendidikan tinggi lebih banyak yang melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim yaitu sebanyak 65,3%.

·         Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan diri dan kehidupan keluarganya. Pekerjaan akan mempengaruhi tingkat ekonomi seseorang. tingkat sosial yang terlalu rendah akan mempengaruhi individu menjadi tidak begitu memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan kebutuha-kebutuhan lain yang lebih mendesa (Nursalam, 2008). Hasil penelitian Hidayati (2001) menyebutkan bahwa kanker leher rahim berhubngan dengan pekerjaan, dimana bila dibandingkan dengan wanita pekerja ringan atau pekerja di kantor (sosial ekonomi menengah ke atas), wanita pekerja kasar, seperti buruh dan petani (sosial ekonomi rendah) mempunyai resiko 4 kali lebih tinggi.

·         Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada yang tidak didasari pengetahuan. Pengetahuan tentang deteksi dini kanker leher rahim penting diketahui oleh masyarakat khususnya wanita untuk meningkatkan kesadaran dan merangsang terbentuknya perilaku kesehatan yang diharapkan dalam hal ini perilaku deteksi dini kanker leher rahim. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Sakanti, Anggiasih 2007 bahwa orang yang berpengetahuan baik, sebanyak 85,71% melakukan pemeriksaan pap smear.

·         Status Perkawinan

Status perkawinan adalah status dimana seseorang terikat atau tidak terikat dalam suatu perkawinan. Menikah adalah status seseorang yang terikat dalam perkawinan, baik tinggal bersama maupun terpisah, termasuk di dalamnya mereka yang kawin syah secara hokum (hokum adat, agama, negara, dsb) maupun mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami istri. Tidak menikah adalah status seseorang yang tidak terikat dalam suatu pernikahan. Status perkawinan sangat erat kaitannya dengan dukungan dari pasangan atau anggotra keluarga dalam proses pemeriksaan atau pengobatan suatu penyakit. Perhatian dan kasih sayang sangat dibutuhkan dalam menumbuh kembangkan seorang manusia kearah yang lebih sehat dan cerdas dan berpotensi.

·         Sikap

Sikap adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. Selain sesatu itu biasa benda, kejadian, situasi, orang-orang ata kelompok. Kalau yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap positif, sedangkan kalau perasaan tak senang maka disebut sikap negatif. Sikap itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang, sebab seringkali terjadi bahwa memperlihatkan tindakan yang tertentangan dengan sikapnya. Dalam hal ini, sikap positif wanita terhadap pentingnya deteksi dini kanker leher rahim, belum tentu akan diikuti dengan perilaku yang positif yaitu melakukan deteksi dini kanker leher rahim. Penelitian yang dilakukan oleh Purba, Evy, M, 2011 menyebutkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan pemeriksaan pap smears pada PUS yaitu sebanyak 65,3%.

·         Keterjangkauan sumber daya kesehatan

Untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. Seperti halnya pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim dengan metode IVA tentulah memerlukan sarana dan prasarana seperti puskesmas, tenaga kesehatan terlatih, alat-alat pemeriksaan dan lain-lain. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Kemudahan akses atau keterjangkauan jarak ketempat pelayanan pemeriksaan, sebagai faktor pemungkin yang memungkinkan seseorang untuk melaksanakan suatu motivasi.

·         Keterpaparan informasi / media massa

Pernah diterima atau tidaknya informasi tentang kesehatan oleh masyarakat akan menentukan perilaku kesehatan masyarakat tersebut. Informasi dapat diterima melalui petugas langsung dalam bentuk penyuluhan, pendidikan kesehatan, dari perangkat desa melalui siaran dikelompok-kelompok dasawisma atau yang lain, melalui media massa, leaflet, siaran televisi dan lain-lain. Perilaku deteksi dini pada WUS juga dipengaruhi apakah wanita tersebut sudah pernah mendapat informasi tentang hal tersebut atau belum. Keterpaparan individu terhadap informasi kesehatan akan mendorong terjadinya perilaku kesehata.

·         Dukungan Suami /Keluarga

Petugas kesehatan sebagai salah satu yang yang berpengaruh dan dianggap penting oleh masyarakat sangat berperan dalam terjadinya perilaku kesehatan pada masyarakat. Peran petugas kesehatan disini adalah memberikan pengetahuan tentang kanker leher rahim dan pentingnya deteksi dini, memberikan motivasi kepada wanita yang sudah menikah untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim.

·         Dukungan Petugas Kesehatan

Kader adalah seorang tenaga sukarela yang direkrut dari, oleh dan untuk masyarakat, yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan. Ada beberapa macam kader yang dibentuk sesuai dengan keperluan menggerakkan partisipasi masyarakat atau sasarannya dalam program pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah kader promosi kesehatan. Kader promosi kesehatan adalah kader yang bertugas membantu petugas puskesmas melakukan penyuluhan kesehatan secara perorangan maupun dalam kelompok masyarakat. Sebagai kader harus bisa member contoh dan bisa menyampaikan pesan-pesan kesehatan yang di data melalui penemuan-penemuan rutin dan pelatihan-pelatihan kesehatan di tingkat desa, puskesmas maupun dinas kesehatan. Peran aktif dari kader dapat mempengaruhi mau atau tidaknya seseorang untuk melakukan pemeriksaan IVA.

·         Motivasi

Motivasi adalah proses yang berperan pada intensitas, arah dan lamanya berlangsung upaya individu kearah pencapaian saran. Motivasi WUS adalah suatu keadaan atau dorongan yang dapat mempengaruhi WUS untuk melakukan pemeriksaan IVA. Seseorang yang termotivasi melakukan pemeriksaan IVA maka dia sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita, yang selanjutnya merasa tertarik  dan akan menimbaik baik buruknya yang selanjutnya akan melakukan pemeriksaan IVA dan mendukung pemeriksaan IVA.

Referensi :

Depkes RI (2009). Buku Saku Pencegahan Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara. Jakarta : Bakti Husada